kolaborasi guru dan orang tua

Gambar

KERJASAMA DENGAN ORANG TUA YANG BERMASALAH

 

A.Keluarga yang bercerai

Kelurga adalah konteks pertama anak untuk belajar bahasa,ketrmpilan,kognitif dan nilai-nilai social dan moral dan kebudayaannya.Bahr (1989) Mengidentifikasi tiga kategori fungsi keluarga : a)afeksi b)kerjasama ekonomi c)sosialisasi anak-anak.

ü  Afeksi (pemeliharaan dan dukungan )

Kelurga memberi pertanggung jawab pada pemeliharaan dan dukungan kepada anggota keluarga.peran efektif ini termasuk orang tua yang memberikan kenyamanan,kehangatan dan perlindungan.

ü  Kerja sama ekonomi(persediaan sumber daya )

Keluarga adalah penyedia utamasumber daya seperti,uang,makanan,tempat tinggal

ü  Sosialisasi anak

Keluarga selalu memberikan pengaruh yang terus menerus selama tahun-tahun awal perkembangan ketrampilan social Dan ketrampilan untuk menentukan tujuan pada seseorang anak.

Brennan (1993) berpendapat bahwa hubungan keluarga penting bagi perkembangan kompetens social pada remaja dan bahwa kompetensi social sangat krusial bagi kekuatan untuk melawan psikopatologi.

 

Masalah-masalah terkait keluarga        

v  Kesiapan emosional

Perubahan struktur keluarga menyebabkan berkurangnya dukungan keluarga.anak-anak di keluarga kecil mengalami kesepian karna mereka berinteraksi dengan lebih sedekit orang.

Hubungan antara saudara kandung seringnya adalah hubungan timbale balik dimana anak-anak belajar tentang kerjasama dan kompetesi dan disiapkan untuk hubungan dan aktivitas di luar keluarga.

v  Masalah-masalah terkait dengan tekanan

Perpecahan kelurga yang muncul dari perpisahan dan perceraian orang tua juga berarti bahwa lebih banyak anak-anak mengalami sters.lebih sedikt anak-anak dari orang tua bercerai yang melanjutkan ke perguruan tinggi.

v  Kemerosotan nilai-nilai

Ketika keluarga mengarah ke struktur keluarga inti,anak-anak menderita tidak hanya hilangnya dukungan emoionaldari para anggota lain pada keluarga besar-bibi,paman dan kakek-nenek,namun juga kurangnya bimbingan dan pengawasan.untuk mengatasi kemerosatan nilai-nilai tradisional,gerakan Singapore family values diluncurkan pada tahun1994.gerakan tersebut telah memperkenalkan dan mengembangkan lima nilai inti:

  • Cinta,perlindungan dan perhatian.
  • Saling menghormati
  • Tanggung jawab orang tua
  • Komitmen
  • Komunikasi

Nilai-nilai tersebut tetap dikomunikasikan melalui pendidikan umumdan program-program yang berorientasi pada keluarga yang diorganisir oleh lembaga masyarakat seperti,family service centres

 

v Peningkatan angka kejahatan

Meningkatnya kasus kenakalan remaja merupakan akibat lain dari hilangnya pengaruh dari control orang tua.sebuah laporan oleh inter ministry commite n dysfunctional families,juvenile delinquency and drug abuse di tahun 1999 mengungkapkan bahwa anak-anak dari keluarga dengan bimbingan dan pengawasan orang tua yang buruk lebih mungkin untuk terlibat dalam aktifitas kenakalan.

 

Perilaku pengasuhan dan perkembangan anak

            Salah satu hubungan yang paling dapat di percaya dan konsisten yang di temukan pada penelitian kemasyarakatan adalah hubunga  yang positif antara prilaku orang tua dan hasil yang di dapat oleh anak.secara umum,seseorang anak yang di besarkan dalam sebuah lingkungan yang mendukung cenderung mengembangkan krakteristik bernilai-soosial dimana kehangatan yang rendah dan level penghukuman yang tinggi di perkirakan akan membentuk perilaku antisocial yang agresif dan penolakan teman.

  • Gaya pengasuhan authoritative (otoritatif)

Pendekatan ini dicirikan dengan kehangatan yang tinggi dan tuntutan yang tinggi.para orang tua otoritatif menetapkan serta dengan tegas menerapkan aturan standar,secara konsisten memonitor tindakan danmenggunakan metode disiplin non-hukuman.

  • Gaya pengasuhan authoritarian (otoriter)

Sebaliknya orang tua authoritarian adalah orang tua yang rendah dalam kehangatan dan tinggi dalam control orang tua.anak-anak dari orang tua otoriter adalah anak-anak cemas,menarik diri dan tidak bahagia.

  • Gaya pengasuhan indulgeny (yang terlalu member hati)

Ini di karakteristikan dengan daya respon tinggi dengan tuntutan dan control yang rendah.

  • Gaya pengasuhan neglectful(gyang lalai)

Pendekatan ini di karakteristik kan dengan kehangatan yang rendah control yang rendah.kerjasama guru-orangtua adalah salah satu kemitraan yang sinergis yang menyatukan kekuatan dari keluarga dan ketrampilan sekolah untuk mendukung perkembangan anak.

 

Keterlibatan orang tua

            Lime tipe keterlibatan yang tersebut diusulkan oleh epstain:

  • Kewajibankewajiban dasar orang tua
  • Kewajiban-kewajiban dasar sekolah
  • Keterlibatan peran orang tua disekolah
  • Keterlibatan peran orang tua dalam aktivitas belajar dirumah
  • Melibatkan orang tua di dalam pengambilan keputusan tat sekolah dan advokasi

 

Mengembangkan iklim sekolah yang positif .

Peran kepala sekolah

            Kepala sekolah memainkan peran yang signifikan dalam menciptakan suatu suasana yang positif yang dapat membantu orangtua meraskan disambut.

Peran guru

            Guru memainkan satu sentral di dalam keterlinatan peran orang tua.guru adalah konselor,komunikator,direktur program,penerjemah,pengembangan sumber daya dan teman.

Dalam menjangkau orang tua sangat berguna bagi guru untuk :

  • Menghubngi orang tua lebih awal sebelum suatu masalh terjadi
  • Membiarkan para orang tua tau bagaimana mereka bisa mengulang pembelajaran dikelas saat di rumah.
  • Mengunjungi keluarga dirumah mereka untuk sebaik apa pembelajaran disan didukung.
  • Menghadapi hal yang menjadi perhatan orang tua.

Pendidikan orang tua

Untuk membantu pembelajaran anak-anak di sekolah,penting untuk meningkatkan kualitas

interaksi orangtuaanak.salah satu caranya adalah dengan melakukan workshoppengasuhan/orangtua.

B.Keluarga dengan anak yang berpenyakit kronis

            Pada dasarnya anak usia dini adalah masa yang gemilang bagi anak,akan tetapi tidak semua anak dapat masa gemilang itu karna mengalami gamguan tau penyakit kronis.oleh karna itu jika satu sekolah memiliki anak seperti itu maka guru harus member tahu kepada orang tua dan mengkomunikasikannya.

C.Keluarga dan kekerasan pada anak.

            Kekerasan terhadap anak (child abuse)menurut kempe dan helfer adalah anak yang mengalami luka secara disengaja oleh orang tua.

Membentak dan mengancam adalah bentuk paling umum dari agensi yang dilakukan orangtua.

Cavett(2002)menyebutkan 3 macam kekerasan pada anak yaitu :

  • Kekerasan seksual
  • Kekerasan fisik
  • Kekerasan emosi

 

Faktor-faktor yang menyebabkan munculnya perilaku kekerasan yaitu :

  • Dendam
  • Stabilititas emosi yang rendah
  • Car mendidik anak yang otoriter dn menggunakan cara kekerasan
  • Tradisi
  • Modeling

Munculnya kekerasan menimbulkan efek psikologisyang sangat berat bagi korban.penelitian Calhoun dan Atkinson pada tahun 1991 menemukan bahwa sebagian besar korban kekerasan seksual menderita stress pasca trauma.

Smith cannady (1998)menyimpulkan bahwa korban pada akhirnya akan mengalami masalah penyesuaian social yang parah.perasaan terluka cendrung dibawa hingga dewasa dan mempengarui sikap mereka terhadap orang lain,terutama keluarga sebagai pelakunya.

Sikap kerja

Sikap adalah kecenderungan tingkah laku yg di dasari olehproses evaluative dalam diri individu terhadap suatu objek tertentu(ajzen dan fishbin,1980).

Merujuk azwar (1995),maka pembentukn sikap kerja yang dipengaruhi oleh beberpa faktor:

  • Pengalaman pribadi
  • Pengaruh orang lain yang dianggap penting
  • Pengaruh kebudayaan
  • Lemabga pendidikan dan lembaga agama
  • Media masaa
  • Pengaruh faktor emosional.

 

Pengukuran sikap kerja positif dapat terwujud dari (miner,1992):

  • Adannya perasaan keterlibatan sehingga menyakinkanbahwa mereka mampu untuk membuat keputusan.
  • Mempunyai sikap yang baik terhadap pekerjaan
  • Kebutuhan untuk salinh tergantung
  • Adanya sifat otoriter,kepatuhan terhadap orang lain.
  • Penampilan akan pekerjaan.

 

Akibat kekerasan pada sikap kerja korban

Munculnya kkerasan menimbulkan efek psikologis yang sangat berat bagi korban.kondisi emosi dan kepribadian secara umum mengalami guncangan berat,sehingga muncul kondisi yang tidak seimbang.ketidak seimbangan ini apabila terus dipertahankan tentu tidak mebawa kebaikan bagi adaptasinnya kelak degan ingkungan.

Pengalaman pribadi yang di alami korban kekerasan adalah kekerasan itusendiri.

Merujuk pada miner(1992),analisis prediktif terhadp sikap kerja yang muncul setelah terjadi kekerasan dapat dijelaskan sebagai berikut :adanya kecendrungan apatis,pasif dan mengabaikan peraturan menyebabkan korban sulit untuk memiliki pearasaan terlibat dalam perusahaan.hal ini menyebabkan kerja sama yang solid dan suasana kerja kebersamaan/kekeluargaan,ssaling mengerti dan memahami tidak mampu di munculkan.hal ini tidak akan mampu mengoptimalkan potensi dari korban dalam bekerja,sehingga tidak ada penerimaan dan penyelesaian pekerjaan dengan senang,kemauan dan semangat kerja juga menjadi rendah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s