Permainan peabody

0

Pemilihan dan penggunaan alat permainan Peabpdy di PAUD

Untuk pengembangan kemampuan berbahasa ini, kakak beradik Elizabeth Peabody membuat boneka tangan. APE ini terdiri atas dua boneka tangan yang berfungsi sebagai tokoh mediator yaitu tokoh P. Mooney dan Joey. Boneka tersebut dilengkapi papan magnet, gambar-gambar, piringan hitam berisi lagu dan tema cerita serta kantong pintar sebagai pelengkap.

 

APE karya Peabody ini memberikan program pengetahuan dasar yang mengacu pada aspek pengembangan bahasa yaitu kosa kata yang dekat dengan anak. Oleh karena itu tematema yang dipilih dan diramu harus sesuai dengan pengetahuan dan budaya anak setempat. Walaupun tokohnya tidak menggunakan P Mooney dan Joey tetapi jenis APE ini mengilhami pembuatan boneka tangan yang dikembangkan di Indonesia. Boneka tangan yang dimainkan dengan tangan ini dikembangkan dengan menggunakan panggung boneka yang dilengkapi layar yang dapat diganti sesuai cerita anak-anak TK di Indonesia.

 

Alat permainan ini diciptakan untuk membantu anak dalam pengembangan bahasa secara intensif yaitu pengenalan bentuk, warna serta berbagai kosa kata yang dekat dengan anak. Sistem pengulangan yang diberikan dengan berbagai variasi membuat anak tidak bosan sekalipun mereka sudah mengetahuinya. Penggunaan imajinasi akan membantu anak menguasai dan mengembangkan kreativitasnya. Alat permainan berupa boneka tangan ini dapat dipergunakan untuk mengungkap berbagai perasaan anak. Perasaan yang biasa dirasakan anak dalam kehidupan sehari-harim kecemasan, ketakutan, perasaan senang, harapan, perasaan mencekam, kesedihan dan lain-lain teruangkap dengan penuh spontanitas sesuai dengan jiwa anak.

Dalam perangkat APE Peabody tersebut terdapat banyak benda mainan, seperti boneka dua tangan yang  berfungsi sebagai mediator, yaitu P.Moone dan Zoey, satu tongkat  ajaib, satu kantong pintar, Papan magnet, seperangkat bentuk yang terbuat dari logam atau piringan hitam yang berisi lagu maupun cerita, dan berbagai gambar untuk meningkatkan kosakata serta konsep lainnya.

 

Berbagai alat permainan edukatif  tersebut diprogram, sehingga dapat memberikan pengetahuan dasar yang mengacu pada pengembangan bahasa secara intensif, yaitu pengenalan bentuk, warna serta berbagai kosakata yang sederhana dan mudah dipahami anak.

 

Tema tema yang dipilih dan diramu oleh guru harus relevan dengan pengetahuan anak dari berbagai macam budaya. Dengan metode ini, berbagai perasaan anak akan terungkap. Perasaan yang biasa dirasakan anak dalam kehidupan sehari hari, kecemasan, ketakutan, perasaan senang, harapan, perasaan mencekam, kesedihan dan lain lain terungkap dengan penuh spontanitassesuai dengan jiwa anak.

 

Peabody boleh disebut pelapor pengembangan bahasa. Dalam pengembangan pendidikan  dan tumbuhnya berbagai teknologi meodern, kadang kadang dipakai sebagai tambahan saja karena tetap dikembalikan kepada pendidik. Yang menarik adalah pengetahuan ini berdifat mendasar, maka dapat dipakai oleh setiap kebudayaan.

 

pembelajaran sains anak usia dini

0

Gambar

PENGEMBANGAN PROGRAM  PEMBELAJARAN SAINS AUD

 

  1. RUANG LINGKUP PEMBELAJARAN SAINS AUD

Secara umum yang menjadi wilayah garapan pembelajaran sains meliputi dua dimensi besar, pertama dilihat dari isi bahan kajian dan kedua dilihat dari bidang pengembangan atau kemampuan yang akan dicapai.

  1. Ruang lingkup sains dilihat dari isi bahan kajian mepiluti materi atau disiplin yang terkait dengan bumi dan jagat raya, ilmu hayati (biologi), bidang kajian fisika dan kimia. Topic-topik umum untuk pembelajaran pada anak usia dini biasanya meliputi:
    1. Untuk jagat raya: pengetahuan tentang bintang, matahari dan planet, kajian tentang tanah, batuan dan pegunungan serta kajian tentang cuaca atau musim.
    2. Ilmu-ilmu hayati atau biologi menggambarkan tentang program sains yang meliputi study tentang tumbuh-tumbuhan, studi tentang binatang atau hewan, studi tentang hubungan antara hewan dengan tumbuhan serta studi tentang hubungan antara aspek-aspek kehidupan dengan lingkungannya.
    3. Ilmu-ilmu fisika dan kimia dalam program sains untuk anak meliputi studi tentang daya, studi tentang energy, serta studi tentang rangkaian dan reaksi kimiawi
  2. Ruang lingkup sains ditinjau dari bidang pengembangan atau kemampuan yang harus dicapai yaitu meliputi kemampuan terkait dengan penguasaan produk sains, penguasaan proses sains, penguasaan proses sains dan penguasaan sikap-sikap sains (jiwa ilmuan). Pentingnya anak menguasai sains karena sains dipandang sebagai suatu yang memiliki disiplin yang ketat, obyektif dan suatu proses yang bebas nilai. Dengan ketentuan seperti itu, maka anak usia dini sejak awal perlu diperkenalkan pada prosedur dan teknik kerjanya secara benar, sehingga kecakapan tersebut menjadi suatu yang melekat kuat hingga anak menjadi ilmuan yang sesungguhnya.

Adapun, sesuai dengan karakteristik proses sains, maka kemampuan yang dapat diprogramkan dan dilatihkan pada AUD, diantaranya:

  1. Kemampuan mengamati
  2. Menggolongkan
  3. Mengukur
  4. Menguraikan
  5. Menjelaskan
  6. Mengajukan pertanyaan-pertanyaan penting
  7. Merumuskan problem
  8. Merumuskan hipotesis
  9. Melakukan eksperimen
  10. Mengumpulkan dan menganalisis data
  11. Menarik kesimpulan

 

 

  1. MODEL PENGEMBANGAN PRORAM PEMBELAJARAN SAINS AUD

Beberapa model pengembangan proram pembelajaran atau kurikulum yang dapat dijadikan pedoman dalam pengembangan program pembelajaran sains pada AUD. Secara umum terdapat tiga pendekatan utama dalam pengembangan kurikulum sains pada tentang PAUD yaitu:

  • Pendekatan yang bersifat situasional

Maksudnya, pembahasan tentang sains akan dielaborasi (diulas) secara luas dan mendalam jika dalam pembelajaran muncul fenomena yan terkait dengan tuntutan pembahasan konsep dan pengalaman sains pada sasaran belajar.

  • Pendekatan yang bersifat terpisah (tersendiri)

Maksudnya, program pengenalan pembelajaran sains dikemas secara khusus dan tersendiri. Dalam PAUD pembelajaran sains disetting (dirancang) secara khusus sesuai dengan karakteristik anak yang sesuai (relevan) dengan tuntutan penguasaan sains. Jadi pengembangan pembelajaran sains bersifat regular karena memiliki waktu dan tempat khusus dalam program (kurikulum) PAUD yang ada.

  • Pendekatan yang bersifat merger atau terintegrasi

Program sains dikembangkan dengan cara digabungkan secara formal dan sistematis dengan bidang pengembangan atau disiplin ilmu lainnya. Sehingga dalam program pengembangan pembelajaran sains merupakan bagian dari suatu program kurikulum yang lebih luas dan terpadu sifatnya. Contoh pengintegrasian program sains dilihat berdasarkan isi bahan kajian misalnya: penggabungan sains dan matematika, penggabungan sains dengan sejarah, penggabungan sains dengan olahraga.

Tugas utama guru sains mengembangkan seluruh aspek perkembangan anak secara optimal, untuk itu pilihan yang dianjurkan tetap menggunakan pendekatan dengan model terpadu.

            Beberapa saran yang harus diperhatikan oleh para guru sains ketika mengembangkan program sains secara umum diantaranya:

  1. Sebelum memulai pengembangan program pembelajaran hendaknya guru sudah mayakinkan diri bahwa dia sudah memahami perkembangan dan karakteristik anak secara memadai.
  2. Sebelum memulai program pengembangan pembelajaran hendaklah guru meyakinkan diri bahwa dia sudah memahami ruang lingkup program sains, baik dari dimensi isi bahan kajian maupun dari dimensi pengembangan kemampuan anak.
  3. Jika rambu-rambu satu dan dua tidak terpenuhi hendaklah dalam pengembangan program pembelajaran sains kita melakukannya secara kelompok (teamwork)
  4. Bentuk dan wujud program sains yang dapat dihasilkan oleh guru atau tim dapat berupa program 1 tahun, semester, bulan, minggu atau hari. Jadi dapat disesuaikan dengan kebutuuhan lembaga dan kepentingan program lain secara keseluruhan.
  5. Sebaiknya diitfentarisir seluruh yang dapat memberikan kontribusi (sumbangan) terhadap pengembangan pembelajaran sains di tempat, sehingga program sains mendapat dukungan semua pihak ( total environment)
  6. Kemaslah isi program yang memperhatikan prinsip-prinsip keseimbangan, keluesan, kesinambungan, kebermaknaan dan fungsionalitas

 

strategi pembelajaran

0

STRATEGI PEMBELAJARAN DITINJAU DARI BERBGAI PENDEKATAN

  1. 1.      Berorientasi pada Perkembangan Anak

Dalam melakukan kegiatan, pendidik perlu memberikan kegiatan yang sesuai dengan tahapan perkembangan anak. Anak merupakan individu yang unik, maka perlu memperhatikan perbedaan secara individual. Dengan demikian dalam kegiatan yang disiapkan perlu memperhatikan cara belajar anak yang dimulai dari cara sederhana ke rumit, konkrit ke abstrak, gerakan ke verbal, dan dari ke-aku-an ke rasa sosial.
Prinsip-prinsip perkembangan anak usia dini berbeda dengan prinsip-prinsip perkembangan fase kanak-kanak akhir dan seterusnya. Adapun prinsip-prinsip perkembangan anak usia dini menurut Bredekamp dan Coople  adalah sebagai berikut.

ü  Perkembangan aspek fisik, sosial, emosional, dan kgnitif anak saling berkaitan dan saling mempengaruhi satu sama lain.

ü  Perkembangan fisik/motorik, emosi, social, bahasa, dan kgnitif anak terjadi dalam suatu urutan tertentu yang relative dapat diramalkan.

ü  Perkembangan berlangsung dalam rentang yang bervariasi antar anak dan antar bidang pengembangan dari masing-masing fungsi.

ü  Pengalaman awal anak memiliki pengaruh kumulatif dan tertunda terhadap perkembangan anak.

ü  Perkembangan anak berlangsung ke arah yang makin kompleks, khusus, terorganisasi dan terinternalisasi.

ü  Perkembangan dan cara belajar anak terjadi dan dipengaruhi oleh konteks social budaya yang majemuk.

ü  Anak adalah pembelajar aktif, yang berusaha membangun pemahamannya tentang tentang lingkungan sekitar dari pengalaman fisik, social, dan pengetahuan yang diperolehnya.

ü  Perkembangan dan belajar merupakan interaksi kematangan biologis dan lingkungan, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial.

ü  Bermain merupakan sarana penting bagi perkembangan social, emosional, dan kognitif anak serta menggambarkan perkembangan anak.

ü  Perkembangan akan mengalami percepatan bila anak berkesempatan untuk mempraktikkan berbagai keterampilan yang diperoleh dan mengalami tantangan setingkat lebih tinggi dari hal-hal yang telah dikuasainya.

ü  Kondisi terbaik anak untuk berkembang dan belajar adalam dalam komunitas yang menghargainya, memenuhi kebutuhan fisiknya, dan aman secara fisik dan fisiologis.

 

  2. Berorientasi pada Kebutuhan Anak

Kegiatan pembelajaran pada anak harus senantiasa berorientasi kepada kebutuhan anak. Anak pada usia dini sedang membutuhkan proses belajar untuk mengoptimalkan semua aspek perkembangannya. Dengan demikian berbagai jenis kegiatan pembelajaran hendaknya dilakukan berdasarkan pada perkembangan dan kebutuhan masing-masing anak.

Anak Usia Dini adalah anak yang sedang membutuhkan upaya-upaya pendidikan untuk mencapai optimalisasi semua aspek perkembangan baik perkembangan fisik maupun psikis (intelektual, bahasa, motorik, dan sosio emosional). Dengan demikian berbagai jenis kegiatan pembelajaran hendaknya dilakukan melalui analisis kebutuhan yang disesuaikan dengan berbagai aspek perkembangan dan kemampuan pada masing-masing anak.

 3. Bermain Sambil Belajar atau Belajar Seraya Bermain

Bermain merupakan pendekatan dalam melaksanakan pembelajaran pada anak usia dini. Kegiatan pembelajaran yang disiapkan oleh pendidik hendaknya dilakukan dalam situasi yang menyenangkan dengan menggunakan strategi, metode, materi/bahan, dan media yang menarik serta mudah diikuti oleh anak. Melalui bermain anak diajak untuk bereksplorasi, menemukan dan memanfaatkan objek-objek yang dekat dengan anak, sehingga pembelajaran menjadi bermakna bagi anak. Ketika bermain anak membangun pengertian yang berkaitan dengan pengalamannya.

 

  1. 1.      Stimulasi Terpadu

Perkembangan anak bersifat sistematis, progresif dan berkesinambung-an antara aspek kesehatan, gizi dan pendidikan. Hal ini berarti kemajuan perkembangan satu aspek akan mempengaruhi aspek perkembangan lainnya. Karakteristik anak memandang segala sesuatu sebagai suatu keseluruhan, bukan bagian demi bagian. Stimulasi harus diberikan secara terpadu sehingga seluruh aspek perkembangan dapat berkembang secara berkelanjutan, dengan memperhatikan kematangan dan konteks sosial, dan budaya setempat.

    5. Lingkungan Kondusif

 Lingkungan pembelajaran harus diciptakan sedemikian menarik dan menyenangkan serta demokratis sehingga anak merasa aman, nyaman dan menyenangkan dalam lingkungan bermain baik di dalam maupun di luar ruangan. Lingkungan fisik hendaknya memperhatikan keamanan dan kenyamanan anak dalam bermain. Penataan ruang belajar harus disesuaikan dengan ruang gerak anak dalam bermain sehingga anak dapat berinteraksi dengan mudah baik dengan pendidik.

 

6. Menggunakan Pendekatan Tematik
Kegiatan pembelajaran dirancang dengan menggunakan pendekatan tematik. Tema sebagai wadah mengenalkan berbagai konsep untuk mengenal dirinya dan lingkungan sekitarnya. Tema dipilih dan dikembangkan dari hal-hal yang paling dekat dengan anak, sederhana, serta menarik minat.

 7. Aktif, Kreatif, Inovatif, Efektif, dan Menyenangkan
Proses pembelajaran yang aktif, kreatif, inovatif, efektif, dan menyenangkan dapat dilakukan oleh anak yang disiapkan oleh pendidik melalui kegiatan-kegiatan yang menarik, menyenangkan untuk membangkitkan rasa ingin tahu anak, memotivasi anak untuk berpikir kritis, dan menemukan hal-hal baru. Pengelolaan pembelajaran hendaknya dilakukan secara demokratis, mengingat anak merupakan subjek dalam proses pembelajaran.

8. Menggunakan Berbagai Media dan Sumber Belajar
Setiap kegiatan untuk menstimulasi perkembangan potensi anak, perlu memanfaatkan berbagai media dan sumber belajar, antara lain lingkungan alam sekitar atau bahan-bahan yang sengaja disiapkan oleh pendidik. Penggunaan berbagai media dan sumber belajar dimaksudkan agar anak dapat bereksplorasi dengan benda-benda di lingkungan sekitarnya.

 9. Mengembangkan Kecakapan Hidup
Proses pembelajaran harus diarahkan untuk mengembangkan kecakapan hidup melalui penyiapan lingkungan belajar yang menunjang berkembangnya kemampuan menolong diri sendiri, disiplin dan sosialisasi serta memperoleh keterampilan dasar yang berguna untuk kelangsungan hidupnya.

 

 

anatomi sendi dan sistem otot

0

ANATOMI SENDI DAN SISTEM OTOT

A.ANATOMI SENDI

Persendian/ artikulatio adalah pertemuan  atau sambungan antara dua tulang atau lebih.

Jenis- jenis Persendian

  1. Sendi Fibrous(sinartrosis) : sendi yang tidak dapat bergerak.

Ada beberapa macam:

  1. Sindesmosis,  contoh sendi antara fibia dan fibula. Tulang disini digabungkan oleh jaringat ikat.
  2. Sutura, contoh pada tulang kepala.
  3. Gomposis, contoh gigi dalam tulang mandibula, suatu tulang masuk kedalam rongga/ kantong tulang lain.

 

  1. Sendi tulang rawan (amfiartrosis)
    1. Sinchondrosis : sambungan dalam suatu tulang semasa dalam pertumbuhan.
    2. Simfisis, contoh: simfisis pubis dan sendi antara ruas- ruas vertebrata.
    3. Sendi sinovial  (diartrosis)
    4. Sendi engsel  (ginglimus), pada lutut, siku, ankle
    5. Sendi poros  (trochoid), sendi antara radius dan humerus.
    6. Sendi ovoid, sendi pada pergelangan tangan.
    7. Sendi pelana  (saddle), sendi pada ruas jari.
    8. Sendi putar  (sferoid), seperti bola dalam cawan, sendi bahu, sendi panggul.
    9. Sendi geser  (artrodial), contoh sendi diantara ruas- ruas, tulang karpal, ruas- ruas tarsalia.

Ciri- ciri sendi yang bergerak bebas:  ujung tulang masuk dalam formasi persendian ditutup oleh tulang rawan hialin. Ligamen untuk mengikat tulang- tulangnya bersama. Sebuah rongga persendian terbungkus oleh sebuah kapsul dari jaringan fibrus dan ddiperkuat oleh ligamen. Pembatasan gerak sendi banyak ditentukan oleh prosesus olekrani pada sendi bahu, ligamenilio femoral pada sendi panggul.

Gerakan yang dilakukan oleh otot rangka umumya adalah dari sendi diartrosis, karena sendi ini mempunyai pergerakan yang terbesar.

Sendi anggota gerak terdiri atas:

  1. Sendi sterno klavikular : sendi yang dibentuk oleh ujung besar di sebelah sternum dan klavikula.
  2. Sendi akromio klavikular, dibentuk oleh ujung luar dari klavikula yang bersendi dengan prosesus akromion dari skapula.
  3. Sendi bahu humero skapular, sendi putar kepala humerus membentuk sepertiga bola, pembatasan gerak ditentukan oleh otot yang mengelilinginya, kebebasan gerak ke seluruh arah( abduksi, adduksi, fleksi, ekstensi, eksorotasi, endorotasi).
  4. Sendi siku dan sendi engsel, membentuk sendi humero radialis dan empat permukaan  persendian yang berada dalam kapsul sendi, gerakan terjadi adalah fleksi dan ekstensi.
  5. Sendi radio ulnari: sendi antara radius dan ulna, radius berputar dalam ligamen pembatas sendi dan ujung bawah radius berputar di atas kepala ulna serta dalam gerakan pronasi dan supinasi.
  6. Sendi tangan dan jaringan tangan.

 

B.SISTEM OTOT

Aktivitas otot untuk melakukan fungsinya adalah dengan kontraksi otot.  Otot yang tidak dalam  bekerja disebut dalam keadaan  relaksasi. Sistem otot penting untuk aktivitas tubuh, tubuh memerlukan gerakan untuk berpindah tempat, untuk gerakan pernafasan, gerakan jantung dan pembuluh darah, gerakan saluran pencernaan,  kelenjer dan alat kelamin.

Sifat- sifat khusus dari otot:

  • Mudah terangsang  (irritability)
  • Mudah berkontraksi  (contractility)
  • Dapat melebar  (extensibility)
  • Dapat diregang seperti karet  (elasticity)
  • Mempunyai irama  (khusus otot jantung)

Otot terbagi atas 3 golongan:

  1. Otot yang menggerakan rangka (otot lurik=otot rangka)
  2. Otot yangmenggerakan alat-alat dalam (otot polos)
  3. Otot jantung.

 

  • Otot polos(otot vegetatif)

Panjangnya 15-200 mikron , tebal sampaia 70 mikron. Otot ini bergerak tidak atas kehendak kita , tapi bergerak  sendiri secara teratur dalam melakukan melakukan kontraksi dan relaksasi.

  • Otot lurik (otot rangka= otot serat lintang) terdiri dari sel otot, tapi dari  serabut- serabut otot  yang merupakan gabungan dari sel- sel otot.

Sewaktu otot berkontraksi , maka otot akan memendek dan inserasi akan tertarik ke arah kepala, maka tulang tempat inserasi otot yang bersangkutan  akan bergerak sesuai dengan kontraksi otot tadi.

 

Gerakan – gerakan yang terjadi karena kontraksi otot:

  1. Flexi : gerakan  mengecilkan sudut diantara dua tulang.
  2. Extensi: gerakan memperbesar sudut antara dua tulang.
  3. Abduksi: gerakan menjauhi dan garis tengah.
  4. Adduksi: gerakan mendekati garis tengah.
  5. Elevasi: gerakan menuju ke atas

Pada suatu gerakan dari tubuh maka yang bekerja bukanlah satu otot saja tapi kerja dari sekelompok otot yang mempunyai tugas yang bersamaan. Misalnya untuk melakukan flexi pada lengan bawah maka yang bekerja adalah beberapa otot pada bagian depan lengan atas.

 

C.Otot- otot penggerak badan

  1. A.     Otot- otot  punggung

Fungsi: untuk menegakkan badan, mengedikkan ke belakang, dan membantu respirasi.

Beberapa otot punggung:

  1. Mm. Interspinalis
  2. Mm. Intertransversi.
  3. Mm. Levator stratum
  4. Mm. Rektus kapitis
  5. M. Rotator
  6. M. Multifudus
  7. M. Semispinalis
  8. M. Spinalis

 

  1. B.      Otot- otot badan bagian samping

Fungsi: menggerakan badan kearah samping , membantu pernafasan, memutar badan. Otot- otot tersebut :

  1. Mm. Longissimus
  2. Mm. Lliokostalis
  3. Mm. Interkostalis internus
  4. M. Latissimus dorasi
  5. M. Serratus anterior
  6. Mm. Interkostalis externus

 

  1. C.      Otot- otot Dada

Fungsi: menurunkan bahu, membantu pernafasan, abduksi lengan dan membungkuk. Otot- otot itu antara lain:

  1. M. Pektoralis mayor
  2. M. Pektoralis minor
  3. M. Oblique abdominis externus

 

  1. D.     Otot- otot dinding perut

Berguna untuk: membungkukkan badan ke depan, membantu pengeluaran nafas, memutar tubuh, membengkokkan badan ke samping.

Ada 4 otot:

  1. M. Rektus abdominis
  2. M. Oblique abdominis externus
  3. M. Oblique abdominis internus
  4. M. Transversus abdominis

 

  1. E.      Otot- otot panggul

Bertugas mnggerakan badan dan tungkai atas:

  1. M. Gluteus
  2. M. Piriformis
  3. M. Obturator
  4. M. Gemelus
  5. M. Psoas

 

  1. F.        Otot- otot Tungkai Atas

Berfungsi: Menggerakan  tungkai bawah, telapak kaki dan jari kaki. Otot- ototnya:

  1. M. Pektus femoris
  2. M. Vastus medial
  3. M. Vastus lateral
  4. M. Sartorius

 

  1. G.     Otot- otot tungkai bawah

Bertugas: menggerakan telapak kaki, dan jari- jari kaki. Otot- ototnya:

  1. M. Tibialis anterior
  2. M. Extensor digitorum longus
  3. M. Extensor halusis longus
  4. M. Peroneus longus
  5. M. Gastroknemus

 

 

  1. H.     Otot- otot bahu

Fungsinya:

  1. Menggerakan kepala
  2. Menggerakan leher
  3. Menggerakan lengan

Otot- ototnya:

  1. M. Sternokleido mastoideus.
  2. M. Skalenus
  3. M. Semispinalis kapitis
  4. M. Longus kolli

 

  1. I.        Otot- otot Lengan atas

Fungsi: menggerakan lengan bawah dan atas .

Otot-ototnya:

  1. M. Triseps brachialis
  2. M. Biseps brachialis
  3. M. Brachialis
  4. M. Brachioradialis

 

  1. J.        Otot- otot lengan bawah

Fungsinya: untuk menggerakan lengan bawah , tangan dan jari. Otot- ototnya:

  1. M. Extensor digitorum komunis
  2. M. Extensor karpi radialis
  3. M. Extensor karpi ulnaris
  4. M. Supinator
  5. M. Pronatot teres

 

 

kolaborasi guru dan orang tua

0

Gambar

KERJASAMA DENGAN ORANG TUA YANG BERMASALAH

 

A.Keluarga yang bercerai

Kelurga adalah konteks pertama anak untuk belajar bahasa,ketrmpilan,kognitif dan nilai-nilai social dan moral dan kebudayaannya.Bahr (1989) Mengidentifikasi tiga kategori fungsi keluarga : a)afeksi b)kerjasama ekonomi c)sosialisasi anak-anak.

ü  Afeksi (pemeliharaan dan dukungan )

Kelurga memberi pertanggung jawab pada pemeliharaan dan dukungan kepada anggota keluarga.peran efektif ini termasuk orang tua yang memberikan kenyamanan,kehangatan dan perlindungan.

ü  Kerja sama ekonomi(persediaan sumber daya )

Keluarga adalah penyedia utamasumber daya seperti,uang,makanan,tempat tinggal

ü  Sosialisasi anak

Keluarga selalu memberikan pengaruh yang terus menerus selama tahun-tahun awal perkembangan ketrampilan social Dan ketrampilan untuk menentukan tujuan pada seseorang anak.

Brennan (1993) berpendapat bahwa hubungan keluarga penting bagi perkembangan kompetens social pada remaja dan bahwa kompetensi social sangat krusial bagi kekuatan untuk melawan psikopatologi.

 

Masalah-masalah terkait keluarga        

v  Kesiapan emosional

Perubahan struktur keluarga menyebabkan berkurangnya dukungan keluarga.anak-anak di keluarga kecil mengalami kesepian karna mereka berinteraksi dengan lebih sedekit orang.

Hubungan antara saudara kandung seringnya adalah hubungan timbale balik dimana anak-anak belajar tentang kerjasama dan kompetesi dan disiapkan untuk hubungan dan aktivitas di luar keluarga.

v  Masalah-masalah terkait dengan tekanan

Perpecahan kelurga yang muncul dari perpisahan dan perceraian orang tua juga berarti bahwa lebih banyak anak-anak mengalami sters.lebih sedikt anak-anak dari orang tua bercerai yang melanjutkan ke perguruan tinggi.

v  Kemerosotan nilai-nilai

Ketika keluarga mengarah ke struktur keluarga inti,anak-anak menderita tidak hanya hilangnya dukungan emoionaldari para anggota lain pada keluarga besar-bibi,paman dan kakek-nenek,namun juga kurangnya bimbingan dan pengawasan.untuk mengatasi kemerosatan nilai-nilai tradisional,gerakan Singapore family values diluncurkan pada tahun1994.gerakan tersebut telah memperkenalkan dan mengembangkan lima nilai inti:

  • Cinta,perlindungan dan perhatian.
  • Saling menghormati
  • Tanggung jawab orang tua
  • Komitmen
  • Komunikasi

Nilai-nilai tersebut tetap dikomunikasikan melalui pendidikan umumdan program-program yang berorientasi pada keluarga yang diorganisir oleh lembaga masyarakat seperti,family service centres

 

v Peningkatan angka kejahatan

Meningkatnya kasus kenakalan remaja merupakan akibat lain dari hilangnya pengaruh dari control orang tua.sebuah laporan oleh inter ministry commite n dysfunctional families,juvenile delinquency and drug abuse di tahun 1999 mengungkapkan bahwa anak-anak dari keluarga dengan bimbingan dan pengawasan orang tua yang buruk lebih mungkin untuk terlibat dalam aktifitas kenakalan.

 

Perilaku pengasuhan dan perkembangan anak

            Salah satu hubungan yang paling dapat di percaya dan konsisten yang di temukan pada penelitian kemasyarakatan adalah hubunga  yang positif antara prilaku orang tua dan hasil yang di dapat oleh anak.secara umum,seseorang anak yang di besarkan dalam sebuah lingkungan yang mendukung cenderung mengembangkan krakteristik bernilai-soosial dimana kehangatan yang rendah dan level penghukuman yang tinggi di perkirakan akan membentuk perilaku antisocial yang agresif dan penolakan teman.

  • Gaya pengasuhan authoritative (otoritatif)

Pendekatan ini dicirikan dengan kehangatan yang tinggi dan tuntutan yang tinggi.para orang tua otoritatif menetapkan serta dengan tegas menerapkan aturan standar,secara konsisten memonitor tindakan danmenggunakan metode disiplin non-hukuman.

  • Gaya pengasuhan authoritarian (otoriter)

Sebaliknya orang tua authoritarian adalah orang tua yang rendah dalam kehangatan dan tinggi dalam control orang tua.anak-anak dari orang tua otoriter adalah anak-anak cemas,menarik diri dan tidak bahagia.

  • Gaya pengasuhan indulgeny (yang terlalu member hati)

Ini di karakteristikan dengan daya respon tinggi dengan tuntutan dan control yang rendah.

  • Gaya pengasuhan neglectful(gyang lalai)

Pendekatan ini di karakteristik kan dengan kehangatan yang rendah control yang rendah.kerjasama guru-orangtua adalah salah satu kemitraan yang sinergis yang menyatukan kekuatan dari keluarga dan ketrampilan sekolah untuk mendukung perkembangan anak.

 

Keterlibatan orang tua

            Lime tipe keterlibatan yang tersebut diusulkan oleh epstain:

  • Kewajibankewajiban dasar orang tua
  • Kewajiban-kewajiban dasar sekolah
  • Keterlibatan peran orang tua disekolah
  • Keterlibatan peran orang tua dalam aktivitas belajar dirumah
  • Melibatkan orang tua di dalam pengambilan keputusan tat sekolah dan advokasi

 

Mengembangkan iklim sekolah yang positif .

Peran kepala sekolah

            Kepala sekolah memainkan peran yang signifikan dalam menciptakan suatu suasana yang positif yang dapat membantu orangtua meraskan disambut.

Peran guru

            Guru memainkan satu sentral di dalam keterlinatan peran orang tua.guru adalah konselor,komunikator,direktur program,penerjemah,pengembangan sumber daya dan teman.

Dalam menjangkau orang tua sangat berguna bagi guru untuk :

  • Menghubngi orang tua lebih awal sebelum suatu masalh terjadi
  • Membiarkan para orang tua tau bagaimana mereka bisa mengulang pembelajaran dikelas saat di rumah.
  • Mengunjungi keluarga dirumah mereka untuk sebaik apa pembelajaran disan didukung.
  • Menghadapi hal yang menjadi perhatan orang tua.

Pendidikan orang tua

Untuk membantu pembelajaran anak-anak di sekolah,penting untuk meningkatkan kualitas

interaksi orangtuaanak.salah satu caranya adalah dengan melakukan workshoppengasuhan/orangtua.

B.Keluarga dengan anak yang berpenyakit kronis

            Pada dasarnya anak usia dini adalah masa yang gemilang bagi anak,akan tetapi tidak semua anak dapat masa gemilang itu karna mengalami gamguan tau penyakit kronis.oleh karna itu jika satu sekolah memiliki anak seperti itu maka guru harus member tahu kepada orang tua dan mengkomunikasikannya.

C.Keluarga dan kekerasan pada anak.

            Kekerasan terhadap anak (child abuse)menurut kempe dan helfer adalah anak yang mengalami luka secara disengaja oleh orang tua.

Membentak dan mengancam adalah bentuk paling umum dari agensi yang dilakukan orangtua.

Cavett(2002)menyebutkan 3 macam kekerasan pada anak yaitu :

  • Kekerasan seksual
  • Kekerasan fisik
  • Kekerasan emosi

 

Faktor-faktor yang menyebabkan munculnya perilaku kekerasan yaitu :

  • Dendam
  • Stabilititas emosi yang rendah
  • Car mendidik anak yang otoriter dn menggunakan cara kekerasan
  • Tradisi
  • Modeling

Munculnya kekerasan menimbulkan efek psikologisyang sangat berat bagi korban.penelitian Calhoun dan Atkinson pada tahun 1991 menemukan bahwa sebagian besar korban kekerasan seksual menderita stress pasca trauma.

Smith cannady (1998)menyimpulkan bahwa korban pada akhirnya akan mengalami masalah penyesuaian social yang parah.perasaan terluka cendrung dibawa hingga dewasa dan mempengarui sikap mereka terhadap orang lain,terutama keluarga sebagai pelakunya.

Sikap kerja

Sikap adalah kecenderungan tingkah laku yg di dasari olehproses evaluative dalam diri individu terhadap suatu objek tertentu(ajzen dan fishbin,1980).

Merujuk azwar (1995),maka pembentukn sikap kerja yang dipengaruhi oleh beberpa faktor:

  • Pengalaman pribadi
  • Pengaruh orang lain yang dianggap penting
  • Pengaruh kebudayaan
  • Lemabga pendidikan dan lembaga agama
  • Media masaa
  • Pengaruh faktor emosional.

 

Pengukuran sikap kerja positif dapat terwujud dari (miner,1992):

  • Adannya perasaan keterlibatan sehingga menyakinkanbahwa mereka mampu untuk membuat keputusan.
  • Mempunyai sikap yang baik terhadap pekerjaan
  • Kebutuhan untuk salinh tergantung
  • Adanya sifat otoriter,kepatuhan terhadap orang lain.
  • Penampilan akan pekerjaan.

 

Akibat kekerasan pada sikap kerja korban

Munculnya kkerasan menimbulkan efek psikologis yang sangat berat bagi korban.kondisi emosi dan kepribadian secara umum mengalami guncangan berat,sehingga muncul kondisi yang tidak seimbang.ketidak seimbangan ini apabila terus dipertahankan tentu tidak mebawa kebaikan bagi adaptasinnya kelak degan ingkungan.

Pengalaman pribadi yang di alami korban kekerasan adalah kekerasan itusendiri.

Merujuk pada miner(1992),analisis prediktif terhadp sikap kerja yang muncul setelah terjadi kekerasan dapat dijelaskan sebagai berikut :adanya kecendrungan apatis,pasif dan mengabaikan peraturan menyebabkan korban sulit untuk memiliki pearasaan terlibat dalam perusahaan.hal ini menyebabkan kerja sama yang solid dan suasana kerja kebersamaan/kekeluargaan,ssaling mengerti dan memahami tidak mampu di munculkan.hal ini tidak akan mampu mengoptimalkan potensi dari korban dalam bekerja,sehingga tidak ada penerimaan dan penyelesaian pekerjaan dengan senang,kemauan dan semangat kerja juga menjadi rendah.

makalah kehamilan

0

BAB II
NIFAS

A. Definisi Nifas
Periode pascapartum ialah masa enam minggu sejak bayi lahir sampai organ-organ reproduksi kembali ke keadaan normal sebelum hamil. Periode ini kadang-kadang disebut puerperium atau trimester ke empat kehamilan. Perubahan fisiologis yang terjadi sangat jelas, walaupun dianggap normal, di mana proses-proses pada kehamilan berjalan terbalik. Banyak factor, termasuk tingkat energi, tingkat kenyamanan, kesehatan bayi baru lahir, dan perawatan serta dorongan semangat yang diberikan tenaga kesehatan professional ikut membentuk respons ibu terhadap bayinya selama masa ini. Untuk memberi perawatan yang menguntungkan ibu, bayi, dan keluarganya, seorang perawat harus mampu memanfaatkan pengetahuannnya tentang anatomi dan fisiologi ibu pada periode pemulihan.

B. Perubahan Fisiologi Ibu Nifas pada Sistem Muskuloskeletal

1. Afterpains
Pada primipara, tonus uterus meningkat sehingga fundus pada umumnya tetap kencang. Relaksasi dan kontraksi yang periodic sering dialami multipara dan sering menimbulkan nyeri yang bertahan sepanjang masa awal puerperium. Rasa nyeri setelah melahirkan ini lebih nyata setelah ibu melahirkan, di tempat uterus terlalu teregang (misalnya pada bayi besar dsan kembar). Menyusui dan oksitoksin tambahan biasnya sering meningkatkan nyeri ini karena keduanya merangsang kontraksi uterus.

2. Topangan Otot Panggul
Struktur penopang uterus dan vagina bisa mengalami cidera sewaktu meahirkan dan masalah ginekologi dapat timbul di kemudian hari. Jaringan penopang dasar panggul yang terobek atau teregang saat ibu melahirkan memerlukan waktu sampai enam bulan untuk kembali ke tonus semula. Istilah relaksasi panggul berhubungan dengan pemanjangan dan melemahnya topangan permukaan struktur panggul. Struktur ini terdiri atas uterus, dinding vagina posterior atas,, uretra, kandung kemih, dan rectum.

3. Abdomen
Dalam dua minggu setelah melahirkan, dinding abdomen wanita itu akan rileks. Diperlukan sekitar enam minggu untuk dinding abdomen kembali ke keadaan sebelum hamil. Pengembalian tonus otot bergantung pada kondisi tonus sebelum hamil, latihan fisik yang tepat, dan jumlah jaringan lemak. Pada keadaan tertentu dengan atau tanpa ketegangan yang berlebihan, seperti bayi besar atau hamil kembar, otot-otot dinding abdomen memisah, disebut diastasis rekti abdominis. Apabila menetap, defek ini dapat dirasa mengganggu pada wanita, tetapi penanganan melalui upaya bedah jarang dibutuhkan.

4. Uretra dan Kandung Kemih
Rasa nyeri pada panggul yang timbul akibat dorongan saat melahirkan, laserasi vagina, atau episiotomi menurunkan atau mengubah reflek berkemih. Distensi kandung kemih yang muncul segera setelah melahirkan dapat menyebabkan perdarahan berlebih karena keadaan ini bisa menghambat uterus berkontraksi dengan baik. Pada masa pascapartum tahap lanjut, distensi yang berlebihan ini dapat menyebabkan kandung kemih lebih peka terhadap infeksi sehingga menggganggu proses berkemih. Apabila terdapat distensi berlebih pada kandung kemih dalam jangka waktu lama, dinding kandung kemih dapat mengalami kerusakan lebih lanjut (atoni). Dengan mengosongkan kandung kemih secara adekuat, tonus kandung kemih biasanya akan pulih kembali dalam lima sampai tujuh hari setelah bayi lahir.

5. Rongga Panggul
Ligamen, fasia, dan diafragma pelvis yang meregang pada waktu persalinan, setelah bayi lahir, secara berangsur-angsur menjadi ciut dan pulih kembali sehingga tidak jarang uterus jatuh ke belakang dan menjadi retrofleksi, karena ligament rotundum menjadi kendor. Stabilisasi secara sempurna terjadi pada 6-8 minggu setelah persalinan.
Sebagai akibat putusnya serat-serat elastic kulit dan distensi yang berlangsung lama akibat besarnya uterus pada saat hamil, dinding abdomen masih lunak dan kendur untuk sementara waktu. Pemulihan ini dapat dibantu dengan latihan.

C. Beberapa Gejala Muskuloskeletal Yang Timbul Pada Masa Pascapartum
Terdapat beberapa gejala musculoskeletal yang dapat terjadi pada periode pascapartum, diantaranya adalah:
1. Nyeri Punggung
Nyeri punggung adalah gejala pascapartum jangka panjang yang sering terjadi. Mekanisme yang menghasilkan nyeri punggung yang dihipotesis oleh beberapa ahli peneliti adalah ketegangan postural pada system musculoskeletal akibat posisi pada saat persalinan. Nyeri punggung umumnya tidak berat.

2. Sakit Kepala, Sakit pada leher dan Nyeri pada bahu
Sakit kepala jangka pendek yang timbul setelah persalinan terjadi selama minggu pertama pascapartum dan mengalami migren dalam tiga bulan setelah melahirkan yang berlangsung selama enam minggu. Sakit kepala pascapartum sangat menyakitkan, timbul beberapa kali dalam satu minggu dan memengaruhi aktivitas.
Sakit kepala akibat fungsi postdural pada wanita yang mendapat anastesi epidural atau spinal harus dimonitor. Sakit pada leher dan nyeri bahu jangka panjang telah dilaporkan timbul setelah pemberian anastesi umum.

D. Intervensi Dalam Menghadapi Perubahan Fisiologi Masa Nifas

1. Rasa Nyaman
Kebanyakan Ibu mengalami nyeri segera setelah mengalami persalinan.Penyebab umum nyeri meliputi nyeri pasca melahirkan sampai pembesaran payudara. Intervensi yang dapat dilakukan diantaranya dengan memberikan kompres hangat ,distraksi, membayangkan sesuatu, sentuhan terapiutik, relaksasidan interaksi dengan baik bisa mengurangi nyeri yang ditimbulkan kontraksi rahim. Intervensi lain yang bisa diberikan adalah dengan pemberian obat analgesik.
Bila wanita mengeluh tentang adanya afterpains,dapat diberi analgetika atau sedatifa supaya ia dapat beristirahat atau tidur.

2. Istirahat
Intervensi yang dapat dilakukan adalah dengan cara menggosok-gosok punggung, tindakan lain yang dapat memberi kenikmatan selama beberapa malam pertama setelah melahirkan.

3. Ambulasi
Intervensi ini bermanfaat untuk mengurangi insiden tromboembolisme dan mempercepat pemulihan kekuatan ibu.

 

 

 

 

 

 

 

analisis artikel pendidikan karakter anak usia dini

0

Image

 

Contoh artikel

 

PENTINGNYA PENDIDIKAN KARAKTER PADA USIA DINI

Pendidikan karakter pada anak usia dini , dewasa ini sangat di perlukan di karenakan saat ini Bangsa Indonesia sedang mengalami krisis karakter dalam diri anak bangsa. Karakter di sini adalah watak, tabiat, akhlak, atau kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebajikan yang diyakini dan digunakan sebagai landasan untuk cara pandang , bepikir, bersikap dan bertindak. Kebajikan tersebut berupa Sejumlah nilai moral, dan norma, seperti jujur, berani bertindak, dapat dipercaya, hormat pada orang lain, disiplin, mandiri, kerja keras, kreatif.

Berbagai permasalahan yang melanda bangsa be­la­kangan ini ditengarai karena jauhnya kita dari karakter. Jati diri bangsa seolah tercabut dari akar yang sesungguhnya. Se­hingga pendidikan karak­ter menjadi topik yang hangat di bicarakan belakangan ini. Menurut Prof Suyanto Ph.D karakter adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang bisa membuat keputusan dan siap mem­pertang­gungjawabkan tiap akibat dari keputusan yang ia buat.

 

Pembentukan karakter meru­pakan salah satu tujuan pendidikan nasional. Pasal I UU Sisdiknas tahun 2003 menyatakan bahwa di antara tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik untuk memiliki kecerdasan, kepribadian dan akhlak mulia. Amanah UU Sisdiknas tahun 2003 itu bermaksud agar pendidikan tidak hanya membentuk insan Indonesia yang cerdas, namun juga berkepribadian atau berkarakter, sehingga nantinya akan lahir generasi bangsa yang tumbuh berkembang dengan karakter yang bernafas nilai-nilai luhur bangsa serta agama.

 

 

PERAN GURU DALAM PENGEMBANGAN PENDIDIKAN KARAKTER DI SEKOLAH

 

Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), yang kemudian diimplementasikan menjadi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), merupakan kurikulum yang dirancang untuk memberikan peluang seluas-luasnya bagi sekolah dan tenaga pendidik untuk melakukan praktik-praktik pendidikan dalam rangka mengembangkan semua potensi yang dimiliki peserta didik, baik melalui proses pembelajaran di kelas maupun melalui program pengembangan diri (ekstrakurikuler). Pengembangan potensi peserta didik tersebut dimaksudkan untuk memantapkan kesadaran diri tentang kemampuan atau life skill terutama kemampuan personal (personal skill) yang dimilikinya. Termasuk dalam hal ini adalah pengembangan potensi peserta didik yang berhubungan dengan karakter dirinya.

 

Dalam pengembangan karakter peserta didik di sekolah, guru memiliki posisi yang strategis sebagai pelaku utama. Guru merupakan sosok yang bisa ditiru atau menjadi idola bagi peserta didik. Guru bisa menjadi sumber inpirasi dan motivasi peserta didiknya. Sikap dan prilaku seorang guru sangat membekas dalam diri siswa, sehingga ucapan, karakter dan kepribadian guru menjadi cermin siswa. Dengan demikian guru memiliki tanggung jawab besar dalam menghasilkan generasi yang berkarakter, berbudaya, dan bermoral. Tugas-tugas manusiawi itu merupakan transpormasi, identifikasi, dan pengertian tentang diri sendiri, yang harus dilaksanakan secara bersama-sama dalam kesatuan yang organis, harmonis, dan dinamis.

 

Ada beberapa strategi yang dapat memberikan peluang dan kesempatan bagi guru untuk memainkan peranannya secara optimal dalam hal pengembangan pendidikan karakter peserta didik di sekolah, sebagai berikut :

 

1.      Optimalisasi peran guru dalam proses pembelajaran. Guru tidak seharusnya menempatkan diri sebagai aktor yang dilihat dan didengar oleh peserta didik, tetapi guru seyogyanya berperan sebagai sutradara yang mengarahkan, membimbing, memfasilitasi dalam proses pembelajaran, sehingga peserta didik dapat melakukan dan menemukan sendiri hasil belajarnya.

 

2.      Integrasi materi pendidikan karakter ke dalam mata pelajaran. Guru dituntut untuk perduli, mau dan mampu mengaitkan konsep-konsep pendidikan karakter pada materi-materi pembelajaran dalam mata pelajaran yang diampunya. Dalam hubungannya dengan ini, setiap guru dituntut untuk terus menambah wawasan ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan pendidikan karakter, yang dapat diintergrasikan dalam proses pembelajaran.

3.      Mengoptimalkan kegiatan pembiasaan diri yang berwawasan pengembangan budi pekerti dan akhlak mulia. Para guru (pembina program) melalui program pembiasaan diri lebih mengedepankan atau menekankan kepada kegiatan-kegiatan pengembangan budi pekerti dan akhlak mulia yang kontekstual, kegiatan yang menjurus pada pengembangan kemampuan afektif dan psikomotorik.

 

4.      Penciptaan lingkungan sekolah yang kondusif untuk tumbuh dan berkembangnya karakter peserta didik. Lingkungan terbukti sangat berperan penting dalam pembentukan pribadi manusia (peserta didik), baik lingkungan fisik maupun lingkungan spiritual. Untuk itu sekolah dan guru perlu untuk menyiapkan fasilitas-fasilitas dan melaksanakan berbagai jenis kegiatan yang mendukung kegiatan pengembangan pendidikan karakter peserta didik.

 

5.      Menjalin kerjasama dengan orang tua peserta didik dan masyarakat dalam pengembangan pendidikan karakter. Bentuk kerjasama yang bisa dilakukan adalah menempatkan orang tua peserta didik dan masyarakat sebagai fasilitator dan nara sumber dalam kegiatan-kegiatan pengembangan pendidikan karakter yang dilaksanakan di sekolah.

 

6.      Menjadi figur teladan bagi peserta didik. Penerimaan peserta didik terhadap materi pembelajaran yang diberikan oleh seorang guru, sedikit tidak akan bergantung kepada penerimaan pribadi peserta didik tersevut terhadap pribadi seorang guru. Ini suatu hal yang sangat manusiawi, dimana seseorang akan selalu berusaha untuk meniru, mencontoh apa yang disenangi dari model/pigurnya tersebut. Momen seperti ini sebenarnya merupakan kesempatan bagi seorang guru, baik secara langsung maupun tidak langsung menanamkan nilai-nilai karakter dalam diri pribadi peserta didik. Dalam proses pembelajaran, intergrasi nilai-nilai karakter tidak hanya dapat diintegrasikan ke dalam subtansi atau materi pelajaran, tetapi juga pada prosesnya

 

     

 ANALISIS :

PENDIDIKAN KARAKTER ANAK USIA DINI

Pendidikan karakter di nilai sangat penting untuk di mulai pada anak usia dini karena pendidikan karakter adalah proses pendidikan yang ditujukan untuk mengembangkan nilai, sikap, dan perilaku yang memancarkan akhlak mulia atau budi pekerti luhur. Nilai-nilai positif dan yang seharusnya dimiliki seseorang menurut ajaran budi pekerti yang luhur adalah amal saleh, amanah, antisipatif, baik sangka, bekerja keras, beradab, berani berbuat benar, berani memikul resiko, berdisiplin, berhati lapang, berhati lembut, beriman dan bertaqwa, berinisiatif, berkemauan keras, berkepribadian, berpikiran jauh ke depan, bersahaja, bersemangat, bersifat konstruktif, bersyukur, bertanggung jawab, bertenggang rasa, bijaksana, cerdas, cermat, demokratis, dinamis, efisien, empati, gigih, hemat, ikhlas, jujur, kesatria,  komitmen, kooperatif, kosmopolitan (mendunia), kreatif, kukuh hati, lugas, mandiri, manusiawi, mawas diri, mencintai ilmu, menghargai karya orang lain, menghargai kesehatan, menghargai pendapat orang lain, menghargai waktu, patriotik, pemaaf, pemurah, pengabdian, berpengendalian diri, produktif, rajin, ramah, rasa indah, rasa kasih sayang,rasa keterikatan, rasa malu, rasa memiliki, rasa percaya diri, rela berkorban, rendah hati, sabar, semangat kebersamaan, setia, siap mental, sikap adil, sikap hormat, sikap nalar, sikap tertib, sopan santun, sportif, susila, taat asas, takut bersalah, tangguh, tawakal, tegar, tegas, tekun, tepat janji, terbuka, ulet, dan sejenisnya.

 

Sejatinya pendidikan karakter ini memang sangat penting dimulai sejak dini. Sebab falsafah menanam sekarang menuai hari esok adalah sebuah proses yang harus dilakukan dalam rangka membentuk karakter anak bangsa. Pada usia kanak-kanak atau yang biasa disebut para ahli psikologi sebagai usia emas (golden age) terbukti sangat menen­tukan kemampuan anak dalam mengembangkan potensinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar 50 persen variabilitas kecer­dasan orang dewasa sudah terjadi ketika anak berusia empat tahun. Peningkatan 30 persen berikutnya terjadi pada usia delapan tahun, dan 20 persen sisanya pada pertengahan atau akhir dasawarsa kedua.

 

Dari sini, sudah sepatutnya pendidikan karakter dimulai dari dalam keluarga, yang merupakan lingkungan pertama bagi pertum­buhan karakter anak. Setelah keluar­ga, di dunia pendidikan karakter ini sudah harus menjadi ajaran wajib sejak sekolah dasar.

 

Anak-anak adalah generasi yang akan menentukan nasib bangsa di kemudian hari. Karakter anak-anak yang terbentuk sejak sekarang akan sangat menentukan karakter bangsa di kemudian hari. Karakter anak-anak akan terbentuk dengan baik, jika dalam proses tumbuh kembang mereka mendapatkan cukup ruang untuk mengekspresikan diri secara leluasa.

konteks sistem pendidikan di sekolah untuk mengembangkan pendidikan karakter peserta didik, guru harus diposisikan atau memposisikan diri pada hakekat yang sebenarnya, yaitu  sebagai pengajar dan pendidik, yang berarti disamping mentransfer ilmu pengetahuan, juga mendidik dan mengembangkan kepribadian peserta didik melalui intraksi yang dilakukannya di kelas dan luar kelas.

 

 

peranan guru dalam pengembangan pendidikan karakter di sekolah yang berkedudukan sebagai katalisator atau teladan, inspirator, motivator, dinamisator, dan evaluator. Dalam berperan sebagai katalisator, maka keteladanan seorang guru merupakan faktor mutlak dalam pengembangan pendidikan karakter peserta didik yang efektif, karena kedudukannya sebagai figur atau idola yang ditiru oleh peserta didik. Peran sebagai inspirator berarti seorang guru harus mampu membangkitkan semangat peserta didik untuk maju mengembangkan potensinya. Peran sebagai motivator, mengandung makna bahwa setiap guru harus mampu membangkitkan spirit, etos kerja dan potensi yang luar biasa pada diri peserta didik. Peran sebagai dinamisator, bermakna setiap guru memiliki kemampuan untuk mendorong peserta didik ke arah pencapaian tujuan dengan penuh kearifan, kesabaran, cekatan, cerdas dan menjunjung tinggi spiritualitas. Sedangkan peran guru sebagai evaluator, berarti setiap guru dituntut untuk mampu dan selalu mengevaluasi sikap atau prilaku diri, dan metode pembelajaran yang dipakai dalam pengembangan pendidikan karakter peserta didik, sehingga dapat diketahui tingkat efektivitas, efisiensi, dan produktivitas programnya.

Guru hendaknya diberikan hak penuh (hak mutlak) dalam melakukan penilaian (evaluasi) proses pembelajaran, karena dalam masalah kepribadian atau karakter peserta didik, guru merupakan pihak yang paling mengetahui tentang kondisi dan perkembangannya.

Guru hendaknya mengembangkan sistem evaluasi yang lebih menitikberatkan pada aspek afektif, dengan menggunakan alat dan bentuk penilaian essay dan wawancara langsung dengan peserta didik. Aalat dan bentuk penilaian seperti itu, lebih dapat mengukur karakteristik setiap peserta didik, serta mampu mengukur sikap kejujuran, kemandirian, kemampuan berkomunikasi, struktur logika, dan lain sebagainya yang merupakan bagian dari proses pembentukan karakter positif. Ini akan terlaksana dengan lebih baik lagi apabila didukung oleh pemerintah selaku penentu kebijakan